SECUIL KISAH TENTANG SKRIPSI
Skripsi. Sebuah kata benda yang mampu menggetarkan hati
setiap mahasiswa dan juga mantan mahasiswa setiap kali mendengarnya.
Skripsi. Sebuah kumpulan perjuangan dan petualangan dalam
hidup yang hanya bisa ditempuh dengan keringat dan juga air mata.
Skripsi. Sebuah pelajaran hidup yang paling tidak harus
dicicipi sekali dalam menjalani hidup yang cuma sekali.
Oke,
Tulisan ini tidak akan menceritakan betapa susahnya menyusun
sebuah skripsi. Bukan juga tulisan untuk membuat kamu sukses mengerjakan
skripsi.
Bukan. Kamu salah baca tulisan kalau itu niatmu.
Tulisan ini hanyalah sebuah kumpulan keluh kesah dari
seorang mantan mahasiswa yang masih labil dengan cita – cita dan ambisinya.
Jangan dicontoh. Please.
Oke, aku bakal ngomongin skripsi. Mungkin kamu sudah tahu,
atau juga belum. Ya anggap saja kamu sudah tahu, sebab kata ini sering disebut
dimana – mana, di sekolah, di kampus, di majalah, di TV, dan bahkan di sela –
sela doa para mahasiswa yang ingin segera enyah dari kampusnya.
Jangan khawatir, skripsi bukanlah hantu, bukan juga penyakit
mematikan. Hanya sebuah prasyarat supaya kamu bisa jadi sarjana, yang mungkin
menentukan masa depanmu, rezekimu, kebahagiaanmu, dan bahkan juga jodohmu.
Oke, ternyata skripsi sangat menakutkan.
Tapi tenang, skripsi tidak akan menakutkan jika kamu punya
tiga hal.
Satu, kamu punya niat. Dua kamu punya banyak teman. Tiga,
kamu punya gebetan.
Well, yang nomor tiga sebenarnya tidak wajib, masih sunnah.
Tapi lebih baik kalau punya.
Kamu harus punya niat yang kuat, sebab skripsi membuatmu
goyah. Membuat kamu marah, letih, lesu, rendah diri, dan hilang kendali. Bagi
wanita rasanya seperti pra menstruasi, bagi laki – laki rasanya seperti menghadapi
wanita yang sedang pra menstruasi. Pokoknya ribet. Pokoknya ruwet.
Ide – ide mu akan ditolak oleh pembimbing skripsimu, lalu
proposalmu akan ditulis dengan spidol berbagai macam warna yang tidak bisa kamu
baca. Kamu juga akan dikejar oleh waktu, lengah sedikit masa depanmu akan
berlalu. Fiuh. Lalu kamu akan mengalami revisi, dimana tidak seorangpun
mengerti apa sebenarnya isi tulisanmu. Kamu inginnya meneliti anu, dosenmu
tidak setuju. Kamu harus menggantinya, sebab kata dosen adalah sebuah titah.
Kamu harus memeras otak, supaya idemu tidak ditolak. Ini
lebih sakit daripada ditolak cinta, sebab harga diri yang jadi taruhannya.
Tidak berhenti di situ kamu harus tahan berjam – jam
menunggu giliran bertemu dengan sang dosen. Sebab ada banyak yang sepertimu,
tidak hanya kamu. Kamu harus antri, dari pagi, jangan lupa mandi. Lihat, kamu
tidak sendiri.
Setelah itu kamu harus sabar menerima ocehan, wejangan,
suruhan, dan mungkin juga pujian. Tapi jangan lengah, sebab mungkin hanya manis
di bibir saja.
Ceilaaa.
Jadi sudah jelas kamu harus punya niat yang luhur, jika
tidak kamu akan gugur.
Tapi niat saja tidak cukup, kamu juga harus punya yang
kedua.
Yang kedua, kamu harus punya teman.
Mengerjakan skripsi tidak bisa sendirian. Kamu butuh
pertolongan, uluran tangan, dan mungkin juga sebuah pelukan. Kamu tidak bisa
jalan sendiri, harus ada orang yang mengiringi kamu, teman – temanmu.
Jangan remehkan sahabat, teman, atau kenalanmu, sebab nama –
nama mereka yang akan menghiasai lembar ucapan terima kasih di skripsimu.
Atas jasa mereka, keikhlasan mereka, dan kesudian mereka.
Tapi punya teman saja juga belum cukup, sebab kadang mereka
sibuk. Untuk itu kamu perlu punya yang ketiga.
Gebetan.
Aku tidak akan membahas yang ketiga ini. Saolnya aku tidak
punya.
Maaf.
Sebenarnya aku dulu pingin punya, tapi tidak sempat.
Kamu pasti tahu sebabnya.
Iya, skripsi. Siapa lagi.
Oke, kenapa tulisan ini jadi serius, padahal aku ingin
membuatnya jadi genre komedi. Tapi ya sudahlah, terlanjur sudah.
Kalau boleh jujur, sebenarnya aku menyesal dengan skripsi
yang sudah kukerjakan. Soalnya aku menganggap skripsi sebagai beban, bukan
kewajiban untuk menyumbangkan pikiran demi sebuah perubahan. Padahal mahasiswa
adalah seorang agen perubahan yang membahwa harapan untuk kemajuan.
Jadi kalau kamu tanya kenapa Indonesia belum maju, mungkin
aku salah satu penyebabnya. Aku melewatkan kesempatanku untuk ikut andil dalam
membangun bangsa Indonesia. Merdeka!!
Mungkin kamu bingung, apa hubungannya skripsi dengan majunya
sebuah negara. Kubilang ada. Skripsi adalah sumbang asih dari pemikiran anak
negeri. Bukan sekedar gerbang untuk lulus dari perguruan tinggi melainkan
sebuah curahan pikiran dan energi untuk sebuah perubahan menjadi lebih baik dan
berarti.
Aku jadi ingin menangis jika mengingat skripsiku. Aku dulu
mengerjakannya dengan buru – buru, grusa grusu, dan tidak ada perubahan yang
ingin kutuju.
Mungkin skripsi hanya akan menumpuk atau berjejer rapi di rak
– rak tulisan. Dan mungkin akan beberapa bulan di sana sampai berdebu. Tapi
seharusnya aku bersungguh – sungguh, supaya tidak menyesal begini. Supaya tidak
galau seperti ini.
Huh, lagi – lagi tulisan ini menjadi serius. Maaf sekali
lagi.
Aku tidak tahu mengapa aku minta maaf berkali – kali ,
padahal kita belum pernah bertemu. Mungkin kamu membaca tulisan ini sambil
makan, minum, nongkrog, tiduran, nonton TV, tanpa peduli. Aku tidak tahu, kita
belum bertemu.
Maafkan aku, aku sudah berprasangka buruk padamu.
Sebenarnya apa yang sedang kita bicarakan?
Oh ya skripsi.
Tulisan ini bukan untuk menggurui, menasehati, atau menakut
– nakuti. Hanya sekedar ingin menghibur dengan kalimat – kalimat yang melantur.
Tidak perlu serius atau diseriusi sebab katanya hidup cuman sekali. Seperti
sunat. Sekali saja sudah cukup.
Oh ya skripsi.
Untuk apa mereka sebenarnya ada?
Mereka hanya buang uang, buang energi, buang emosi, dan
buang sumber daya alam. Bayangkan berapa ribu lembar kertas yang harus dikorbankan
demi menyusun sebuah karya ilmiah yang mungkin belum tentu berguna.
Aku tidak bermaksud menghina, memang begitu keadaannya.
Lalu kenapa mereka ada?
Sebab keberadaan mereka sangat penting. Sebab mereka adalah
sebuah awal dari ujian hidup yang harus dilewati para mahasiswa begitu
meninggalkan gerbang kampusnya.
Kamu akan bersyukur, kamu akan bersuka cita.
Hidup ternyata lebih kejam dari skripsi. Lebih rumit dari
sebuah birokrasi.
Skripsi hanyalah sebuah batu loncatan supaya kamu naik ke
tingkat selanjutnya, supaya kamu menghargai sebuah proses untuk mencapai sebuah
tujuan.
Tapi skripsi bisa beli kan? Iya bisa.
Banyak yang jual, tapi ilegal.
Tapi jangan hanya salahkan yang jual, salahkan juga yang
beli.
Jaman sekarang skripsi layaknya sebuah komoditi di pasaran.
Ada permintaan maka timbulah penawaran.
Hukum alam, eh bukan, hukum ekonomi.
Tapi apa kamu mau beli skrispi?
Harganya mahal, belum tentu halal.
Apa jadinya negeri ini, kalau ijazah saja ditebus dengan
jual beli.
Ckckckck.
Mana semangat pancasilanya, mana penghargaan untuk para
pahlawannya.
Hargailah teman seperjuanganmu yang dengan keringat dan air
matanya mencoba menyelesaikan sebuah mahakarya.
Hargailah bapak ibumu yang menyekolahkanmu tinggi supaya
kamu jadi orang yang berbudi.
Hargailah guru – gurumu yang mengajar dan mendidik kamu
supaya kamu menjadi pribadi yang jujur dan luhur.
Kamu tidak malu kalau beli?
Kamu pasti malu.
Tidak sekarang, pasti suatu saat nanti.
Apa nanti kata pasanganmu? Apa nanti kata anak cucumu?
Sekali lagi aku tidak mengada-ada, memang begitu resikonya.
Maaf, aku jadi terbawa emosi, aku tidak sanggup membayangkan
nasib negeri ini kalau para mahasiswa dengan gampang membeli skripsi.Ini sama
saja dengan melakukan kejahatan korupsi,
hanya saja di bidang pendidikan, oleh orang – orang terpelajar.
Uh oh, sepertinya aku mengatakan hal yang bukan – bukan,
tapi sudahlah, aku memang bengini adanya.
Maaf, tulisan ini jadi melantur, padahal masih postingan
pertama. Di postingan kedua aku berjanji tidak akan melantur lagi. Untuk itu,
aku sudahi tulisan tentang skripsi ini sampai di sini.
Skripsi. Sebuah kata benda yang mampu menggetarkan hati setiap mahasiswa dan juga mantan mahasiswa setiap kali mendengarnya. Skripsi...